Makassar, 17 April 2008
Amsal 3:
5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu
Bapak/Ibu/Sdr/I penyokong terkasih,
Pada tanggal 11 Juni 2008, hari Jumat, saya berangkat ke Surabaya dengan Kereta Api. Setibanya di Surabaya, saya dijemput oleh Catur Subagio dari Pelayanan Nav Surabaya. Kemudian saya menumpang tinggal di rumahnya selama semalam dan besok siangnya berangkat dari bandara Juanda menuju Makassar.
Kepergian saya ke Makassar kali ini sekaligus merupakan kepindahan domisili saya untuk sementara. Saya akan menetap di Makassar sampai sekitar bulan Juli 2009. Saya memerlukan waktu untuk tinggal di Makassar untuk menemani Gita (calon istri) sekaligus membangun dasar-dasar dalam rumah tangga kami.
Kami merencanakan menikah pada akhir Juni ini (tanggal pastinya belum ada) di Pare-pare, sekitar 4 jam dari Makassar.
Gita bekerja sebagai guru SD Dian Harapan dan merencanakan mengajar di Makassar sampai tahun ajaran ke depan (selesai Juni 2009). Sekaligus juga kami ingin memenangkan hati keluarga Gita untuk dengan rela mengijinkan Gita mengikuti saya ke Jogja. Sekiranya Tuhan memberikan kesempatan, kami juga ingin memberitakan kabar baik kepada mereka.
Setelah bulan Juli 2009, kami akan kembali ke Jogja, dimana saya berencana melanjutkan tugas pelayanan sebagai staf kolega Para Navigator Kampus A Jogja. Selama di Makassar saya tetap bekerja untuk kantor Jasa Pelatihan yang dirintis bersama teman-teman di Jogja. Tugas-tugas memimpin kantor didelegasikan kepada staf lain dan tugas teknis pekerjaan akan dikirim jarak jauh.
Sebelum keberangkatan saya ke Makassar, saya sempat menengok Bapak yang ada di Solo. Pada akhir Februari 2008 kemarin, beliau terserang stroke sehingga mengalami mati rasa sebelah kiri badan. Tetapi beliau mengalami kemajuan kesehatan yang sangat berarti. Pada mulanya saya merasa pesimis akan pemulihan kondisi Bapak. Terakhir saya menengok bapak, kami pergi ke Gereja berboncengan sepeda motor. Bapak telah dapat belajar berjalan dengan didukung tongkat penyangga. Hanya harus ekstra hati-hati dan didampingi karena sangat berbahaya kalau tiba-tiba terjatuh disebabkan kaki beliau belum terlalu sanggup menopang beban badannya.
Berkat doa semua teman-teman, Bapak tidak kehilangan semangat dan terus ingin mencapai kesembuhan. Tuhan juga telah mencukupi biaya pengobatan selama ini.
Firman Tuhan di Gereja mengingatkan akan pentingnya memelihara hati kepada Tuhan Yesus, pada waktu Tuhan telah memberikan apa yang kita butuhkan. Bapak Pendeta menceritakan mengenai seorang anak yang begitu girangnya akan mainan yang diberikan oleh bapaknya, sehingga tidak menanti-nantikan lagi kehadiran bapaknya seperti biasanya. Saya merasa sering terlalu girang, gembira, memusatkan diri pada, pemberian Tuhan. Sewaktu saya mendoakan agar Tuhan mengaruniakan pasangan hidup kepada saya, sungguh-sungguh seluruh hati dan pikiran terpusat untuk memikirkan Tuhan dan mencari kehendak dan hadiratNya. Tetapi setelah Tuhan mengaruniakannya, terlalu sering saya seperti melupakan Tuhan yang mengaruniakannya. Selama menggumulkan biaya pernihkahan, Tuhan juga menginginkan saya mengarahkan hati untuk hanya berharap kepadaNya. Jikalau mengharapkan kemampuan sendiri, saya tentu tidak akan sanggup mencukupinya.
Terima kasih atas segala dukungannya selama ini, baik doa maupun dukungan financial. Sesuai kesepakatan dengan teman-teman di tim kepemimpinan kampus A Yogyakarta, untuk sementara ini selama saya di Makassar, saya tidak masuk ke dalam daftar penerima pemberian Perjanjian Iman. Sesuai damai sejahtera saya, karena peranan pelayanan saya tidak akan bisa sebesar sewaktu tinggal diantara teman-teman mahasiswa, saya mengajukan agar tidak dimasukkan dulu dalam daftar penerima PI.
Mohon dukungan doa agar Tuhan memberkati rencana pernikahan dengan kemuliaan Tuhan, mencukupi kebutuhan keuangan baik pernikahan maupun setelah menikah, dan doakan juga agar Tuhan menjagai kami berdua dalam kekudusan.
Doakan juga pelayanan Kampus A Jogja yang ditinggalkan, terutama untuk mas Herry yang akan menjalankan tugas sebagai staf kolega sendirian (sebelumnya berdua dengan saya).
Dalam KasihNya,
Jati Anggoro